Kemenhut Percepat Implementasi KHDPK di Bogor Melalui Budidaya Durian Unggul dan Bimtek Agroforestri
Kemenhut Percepat Implementasi KHDPK di Bogor Melalui Budidaya Durian Unggul dan Bimtek Agroforestri
BOGOR – Sidak Informasi.Kementerian Kehutanan (Kemenhut) resmi memulai langkah strategis implementasi skema Kawasan Hutan Dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK) di Kabupaten Bogor. Program ini diawali oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Bumi Jaya Sakti melalui penanaman perdana bibit durian varietas unggul serta penyelenggaraan Bimbingan Teknis (Bimtek) agroforestri, Minggu (21/12/2025).
Kegiatan yang berpusat di Kampung Babakan Kadu, Desa Buanajaya, Kecamatan Tanjungsari ini dihadiri langsung oleh Project Leader Indonesia Forest and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030, Arief Rusman Yamin. Kehadirannya bertujuan untuk melakukan monitoring lapangan sekaligus memberikan edukasi teknis kepada para anggota kelompok tani.
Transformasi Ekonomi Melalui Legalitas Perhutanan Sosial
Ketua KTH Bumi Jaya Sakti, Jelani, menyatakan bahwa program ini merupakan angin segar bagi petani setempat. Wilayah yang sebelumnya dikelola di bawah area Kuala Sama Purwoketani kini memiliki payung hukum yang jelas melalui skema Perhutanan Sosial.
"Kami mengusulkan skema Hutan Kemasyarakatan (HKm) karena lokasi ini telah ditetapkan sebagai KHDPK. Dengan legalitas langsung dari kementerian, kami optimistis penghasilan masyarakat akan meningkat dan akses terhadap bantuan pembangunan kelompok akan lebih terbuka lebar," ujar Jelani.
Mengenai luasan lahan, Jelani menjelaskan bahwa dari usulan awal sebesar 401 hektare, realisasi lahan produksi disesuaikan dengan hasil verifikasi teknis. "Kami sangat memperhatikan aspek ekologi. Ada zona-zona tertentu yang tetap dijadikan kawasan lindung. Fokus kami adalah mengelola lahan produksi secara optimal tanpa mengganggu fungsi utama hutan," tambahnya.
Standardisasi Budidaya dan Target Produksi
Dalam sesi Bimtek, Arief Rusman Yamin menekankan pentingnya standardisasi budidaya agar hasil panen memiliki kualitas yang seragam dan bernilai jual tinggi. Komoditas utama yang dikembangkan adalah durian varietas Musang King dan Duri Hitam (Ochee).
"Potensi lokasi ini sangat besar untuk dikembangkan menjadi kawasan agrowisata durian, berdampingan dengan kopi dan alpukat. Dengan perawatan intensif, tanaman diproyeksikan mulai belajar berbuah dalam waktu dua tahun ke depan," jelas Arief.
Ia merinci bahwa untuk mencapai target tersebut, petani diwajibkan konsisten melakukan pemangkasan (pruning) dua kali setahun, pemupukan organik empat kali setahun, serta pemberian stimulan pertumbuhan secara rutin.
Optimalisasi Lahan dan Jaringan Pasar Ekspor
KTH Bumi Jaya Sakti ditargetkan mampu mengoptimalkan minimal 50 persen dari total luas lahan kelolaannya (lebih dari 300 hektare) melalui pola agroforestri. Komitmen ini nantinya akan dituangkan dalam Rencana Kerja Perhutanan Sosial (RKPS).
"Kami akan mendampingi masyarakat secara berkelanjutan, mulai dari tahap produksi hingga membuka akses pasar ke pusat perbelanjaan modern maupun komoditas ekspor," tegas Arief.
Melalui sinergi ini, program KHDPK diharapkan menjadi model percontohan keberhasilan pengelolaan hutan berbasis masyarakat di Kabupaten Bogor. Selaras dengan nama "Bumi Jaya Sakti", inisiatif ini diharapkan mampu mewujudkan kesejahteraan ekonomi warga desa sekaligus menjaga kelestarian fungsi ekologis hutan secara permanen.
(Jajang Nurjaman)