Jalan Jonggol-Sukadamai Hancur Lebur Akibat Proyek Bendungan Cijurai, Koordinator Warga Tuding PT Brantas Abipraya Lamban dan Ingkar Janji
SUKAMAKMUR – Sidak Informasi.Akses jalan utama yang menghubungkan Jalur Mengker (Kecamatan Jonggol) hingga wilayah Desa Sukadamai (Kecamatan Sukamakmur) kini dalam kondisi rusak parah dan hancur lebur. Kerusakan infrastruktur vital ini memicu gelombang protes keras dari warga setempat yang merasa hak atas ruang hidup dan fasilitas publik mereka terampas oleh kepentingan proyek nasional.(15/7)
Hasil investigasi di lapangan menunjukkan bahwa hancurnya jalan ini merupakan dampak langsung dari lalu lalang armada truk bertonase raksasa. Truk-truk pengangkut material tersebut beroperasi jauh melebihi kapasitas beban jalan demi menyuplai proyek pembangunan Bendungan Cijurai.
Sorotan tajam kini tertuju pada PT Brantas Abipraya (Persero) selaku kontraktor utama proyek strategis nasional tersebut. Pihak kontraktor dinilai melakukan pembiaran terstruktur terhadap hancurnya akses publik di Desa Sukadamai. Perbaikan yang dilakukan selama ini dituding warga hanya sebatas "kosmetik" formalitas—sekadar menambal sulam jalan secara asal-asalan untuk meredam amarah massa, tanpa menyentuh titik kerusakan paling parah.
Keluhan ini kini tidak lagi sekadar menjadi bisik-bisik warga. Pemerintah Desa Sukadamai hingga jajaran Pemerintah Kecamatan Sukamakmur mulai angkat bicara dan menyoroti keras kinerja kontraktor. Pemerintah setempat menilai janji dan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) PT Brantas Abipraya sangat minim dan terkesan menutup mata dari realita lapangan.
Kekecewaan mendalam juga disuarakan oleh Saepudin Juhri, atau yang akrab disapa Bang Tigor. Selaku koordinator lapangan yang ditunjuk resmi oleh pihak Desa Sukadamai dan telah disepakati oleh pihak KSO PT Abipraya Minata Raya, ia merasa posisinya disudutkan akibat lambannya respons korporasi.
"Saya sangat kecewa dengan lambatnya penanganan Jalan Raya Jonggol-Menteng yang menjadi akses menuju proyek Bendungan Cijurai. PT Brantas Abipraya terkesan tidak mau secepatnya mengambil solusi konkret untuk perbaikan jalan," cetus Bang Tigor dengan nada tinggi.ia menambahkan, kelambanan pihak kontraktor membuat dirinya berada di posisi sulit di hadapan masyarakat.
"Sebagai koordinator, saya sudah tidak bisa menjawab lagi ketika lingkungan, masyarakat, atau pengguna jalan menanyakan perihal kepastian perbaikan jalan ini. Pihak kontraktor harusnya peka," tegasnya.
Warga menuntut perbaikan menyeluruh dan permanen, bukan sekadar janji manis di atas kertas. Jika pembiaran dan aksi tutup mata ini terus berlanjut, masyarakat mengancam akann menggelar aksi massa yang lebih besar demi menuntut hak mereka atas jalan yang layak dan aman.(Rnt)