Proyek Irigasi P3-TGAI Rp195 Juta di Cianjur Diduga Asal Jadi, Ormas Temukan Indikasi Penyimpangan Spesifikasi
CIANJUR –Sidak Informasi .Pelaksanaan Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) berupa peningkatan jaringan irigasi di Kampung Leuwi Pinggir, Desa Cihea, Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur, kini tengah menjadi sorotan tajam. Proyek senilai Rp195.000.000 yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026 tersebut diduga kuat dikerjakan asal-asalan dan menyimpang dari standar spesifikasi teknis.
Dugaan penyelewengan ini mencuat setelah Ketua Organisasi Kemasyarakatan Laskar Merah Putih (LMP) Markas Anak Cabang (MAC) Kecamatan Haurwangi, Sandy Solihin, Bersama Sidak Informasi melakukan investigasi langsung ke lokasi pengerjaan sepanjang 471 meter tersebut Kamis (9/7).
Dalam temuan lapangannya, Sandy mengungkap adanya indikasi manipulasi material pada struktur bangunan saluran air. Bagian muka saluran dipasangi batu belah standar, namun bagian belakangnya justru disinyalir diselundupkan material batu kali non-spesifikasi. Selain itu, pengerjaan fisik terlihat tidak rapi dengan ketinggian saluran yang bervariasi dan diduga kuat tidak sesuai dengan dokumen perencanaan.
"Kondisi konstruksi di lapangan memicu dugaan kuat bahwa proyek ini tidak mengacu pada dokumen perencanaan teknis yang telah ditetapkan. Jika dibiarkan, kualitas bangunan dipastikan rendah dan tidak akan bertahan lama. Ini sangat merugikan petani setempat yang menggantungkan kebutuhan air dari irigasi ini," tegas Sandy.
Proyek yang berada di bawah pengawasan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, Kementerian Pekerjaan Umum ini, diketahui telah berjalan selama satu minggu. Struktur pekerja di lapangan melibatkan 16 warga lokal, terdiri dari 9 tukang dan 5 laden (kenek).
Saat dikonfirmasi di lokasi, Dede selaku mandor sekaligus tukang, berdalih bahwa penggunaan batu kali terpaksa dilakukan karena adanya kendala akses akibat perbaikan jalan. Alasan ini dinilai janggal karena pengerjaan bagian muka tetap bisa memakai batu belah, ditambah adanya proyek pembangunan rumah warga di sebelah lokasi yang terbukti tidak terkendala mendapatkan pasokan batu belah.
Dede juga mengakui adanya variasi ketinggian saluran hingga menyentuh angka 45 cm, namun mengklaim kekurangan tersebut nantinya akan ditambal menggunakan plesteran.
Hingga berita ini diturunkan, Ketua P3A (Perkumpulan Petani Pemakai Air) selaku pelaksana swakelola, Budi, tidak berada di tempat. Begitu pula dengan Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM), Yana, yang dilaporkan sedang berada di lokasi proyek lain di Desa Hegarmanah, Bojongpicung.
Warga setempat mendesak BBWS Citarum dan tim pengawas independen segera turun tangan melakukan inspeksi mendadak (sidak). Sebagai proyek nasional yang bertujuan mendukung ketahanan pangan, setiap rupiah uang negara wajib dipertanggungjawabkan secara transparan dan mengutamakan mutu, bukan sekadar mengejar target penyelesaian fisik.
Sidak Informasi masih terus berupaya menghubungi pihak pelaksana kegiatan serta perwakilan BBWS Citarum guna mendapatkan konfirmasi dan hak jawab resmi terkait dugaan penyimpangan ini demi asas keberimbangan berita.
( Cepy Abdul Fatah)
Editor :Rnt