Dilema DOB Bogor Timur, Mengejar PAD Rp500 Miliar atau Menjaga Kedaulatan Air?
Opini
Oleh: Endang Rante
(Pimpinan Redaksi Sidak Informasi)
BOGOR – Rencana pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Bogor Timur kini berada di persimpangan krusial: antara optimisme kemandirian fiskal dan ancaman nyata krisis ekologis. Di atas kertas, wilayah yang mencakup tujuh kecamatan ini diproyeksikan menjadi kekuatan ekonomi baru dengan potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) menembus Rp500 miliar per tahun.
Namun, di balik angka fantastis itu, rapuhnya infrastruktur ekologis di wilayah hulu mengintai keberlangsungan Bogor Timur sebagai lumbung pangan nasional.
.
Kekuatan Fiskal: Motor Industri dan Properti
Data tahun 2025 menunjukkan bahwa Bogor Timur bukan sekadar wilayah penyangga, melainkan tulang punggung ekonomi. Kontribusi PAD saat ini telah mencapai Rp333,169 miliar.
Sektor industri di koridor Gunung Putri dan Cileungsi, ditambah derasnya transaksi properti (BPHTB) yang menyumbang Rp159 miliar, menjadi mesin utama pertumbuhan.
Tak hanya industri, sektor agraria tetap menjadi identitas yang kuat. Dengan produktivitas rata-rata 6,75 ton per hektare, wilayah ini berkontribusi signifikan terhadap total produksi padi Kabupaten Bogor yang mencapai 356 ribu ton tahun ini. Secara finansial, Bogor Timur sudah sangat siap untuk berdiri di atas kaki sendiri.
Paradoks Hulu: Krisis di Balik Kesuburan
Namun, narasi keberhasilan ekonomi ini terbentur pada realitas lapangan yang mengkhawatirkan di sektor hulu. Kecamatan Cariu dan Jonggol, yang selama ini diagungkan sebagai lumbung pangan, memiliki ketergantungan mutlak pada pasokan air dari Sukamakmur sebagai wilayah tangkapan air (catchment area).
Ironisnya, saat ini terjadi anomali ekstrem yang mengancam stabilitas tersebut:
1. Defisit Air yang Kronis: Meski berstatus wilayah hulu, saat kemarau panjang memasuki bulan keempat, debit air di Sukamakmur menyusut drastis. Alih-alih mengaliri irigasi hilir, kebutuhan air warga lokal pun sulit terpenuhi.
2. Ancaman Air Bah: Sebaliknya, saat musim penghujan, air turun dari hulu dalam bentuk banjir bandang yang destruktif. Fenomena ini adalah sinyal merah bahwa daya serap lahan di Sukamakmur telah rusak parah; tanah tak lagi berfungsi sebagai "spons alami," melainkan hanya sebagai perosotan bagi air hujan.
Tantangan Manajemen Sumber Daya Air
Pemekaran wilayah bukan sekadar memindahkan pusat administrasi atau membangun gedung pemerintahan yang megah. Bagi calon Kabupaten Bogor Timur, tantangan eksistensialnya adalah
Manajemen Sumber Daya Air Terpadu.
Jika kerusakan di hulu Sukamakmur tidak segera diintervensi melalui konservasi hutan dan pembangunan infrastruktur retensi air—seperti waduk atau embung strategis—maka potensi PAD senilai Rp50-100 miliar dari sektor pertanian akan menguap akibat gagal panen permanen. Lebih jauh lagi, tekanan urbanisasi di Jonggol dan Cariu yang memicu alih fungsi lahan akan memperparah krisis air jika tidak dibendung dengan regulasi tata ruang yang ketat.
Kesimpulan: Mandiri atau Rapuh?
DOB Bogor Timur memiliki modalitas yang sangat kuat untuk menjadi daerah mandiri secara finansial. Namun, kemandirian tersebut akan terasa rapuh tanpa adanya kedaulatan air.
Para pemangku kepentingan harus menempatkan penyelamatan ekosistem Sukamakmur sebagai prioritas utama dalam cetak biru pembangunan DOB. Tanpa pengelolaan air yang visioner, status "Lumbung Padi" hanya akan menjadi kenangan pahit di tengah kepungan beton industri. Bogor Timur butuh lebih dari sekadar otonomi; ia butuh keberlanjutan.