Tolak Penggunaan Nama Leluhur untuk Ruko Komersial, Tokoh Masyarakat dan Ormas di Citeureup Bergerak Tegas
Tolak Penggunaan Nama Leluhur untuk Ruko Komersial, Tokoh Masyarakat dan Ormas di Citeureup Bergerak Tegas
Bogor 31 Desember 2025 –Sidak Informasi Sejumlah tokoh agama dan masyarakat, didukung oleh Organisasi Masyarakat (Ormas) BPPKB Banten, mendatangi Kantor Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, hari ini. Kedatangan mereka untuk menyampaikan keberatan keras dan resmi terkait penggunaan nama "Pangeran Sake" – yang diyakini sebagai leluhur suci di wilayah tersebut – sebagai identitas sebuah ruko komersial di Kelurahan Puspanegara.
Perwakilan warga menegaskan bahwa komersialisasi nama leluhur melukai nilai-nilai keberadaban budaya dan toleransi lokal. "Bagi kami, ini adalah harga mati, tidak bisa ditawar lagi. Nama leluhur kami tidak pantas dikomersilkan," ujar salah satu tokoh masyarakat yang enggan disebutkan namanya.
Situasi ini dinilai mulai memanas dan berpotensi menghambat kondusivitas serta kinerja pembangunan di Citeureup. Masyarakat berharap agar Bupati Bogor segera mengambil kebijakan tegas untuk menyelesaikan persoalan ini secara tuntas.
Tiga Poin Kesepakatan Sementara
Musyawarah yang difasilitasi pihak kecamatan menghasilkan tiga poin keputusan sementara:
1. Mengganti nama ruko dengan nama lain.
2. Menutup tulisan "Pangeran Sake" sementara waktu, sambil menunggu hasil laporan pemangku kebijakan daerah.
3. Melanjutkan diskusi ke tahap selanjutnya, mengingat permintaan masyarakat bersifat mutlak dan tidak bisa dinegosiasikan.
Aksi Pembongkaran Plang Nama
Beberapa jam setelah pertemuan di kecamatan, situasi memanas ketika Ormas BPPKB Banten mendatangi lokasi ruko. Ormas tersebut bertindak cepat dengan membongkar paksa plang nama "Pangeran Sake" yang terpasang di bangunan tersebut.
Ketua PAC Kecamatan Citeureup BPPKB Banten, Apas, menyatakan bertanggung jawab penuh atas tindakan anggotanya. "Sudah lama kami membicarakan ini secara kondusif, tetapi tidak ada respons. Ini nama leluhur kita yang tidak pantas digunakan untuk tujuan komersial. Karena itu kami bongkar sebagai bentuk ketegasan," tegas Kang Apas.(Akew)