Menagih Makna di Balik Angka: Mengapa Rakyat Harus "Banting Setir"?
Opini Oleh: Endang Rante (Redaksi Sidak Informasi / Ketua Pokja Sabaraya)
Di atas kertas, ekonomi Indonesia tampak sedang bersolek. Pertumbuhan PDB yang konsisten di angka 5% kerap dipamerkan sebagai perisai keberhasilan pemerintah. Namun, turunlah ke pasar tradisional di Kabupaten Bogor hingga pelosok daerah, maka narasi yang ditemukan justru bertolak belakang: sebuah perjuangan brutal untuk sekadar bertahan hidup.
Inilah yang saya sebut sebagai fenomena "Banting Setir". Ada diskoneksi tajam antara kemegahan statistik makro dengan realitas mikroskopis masyarakat. Kita sedang menyaksikan lahirnya Ekonomi Dua Wajah.
Himpitan Kurs dan Bunga: Menengah yang Tercekik
Dengan nilai tukar Rupiah yang tertatih di level Rp16.000-an per Dolar AS, sektor manufaktur sedang mengalami pendarahan hebat. Sektor ini adalah penyerap tenaga kerja terbesar, namun kini terjepit: bahan baku impor melambung, sementara daya beli konsumen sudah lunglai. Akibatnya, efisiensi menjadi "jalan ninja" perusahaan yang berujung pada gelombang PHK.
Ironisnya, kebijakan suku bunga tinggi (BI Rate) yang diambil untuk menstabilkan moneter justru menjadi beban baru bagi kelas menengah. Cicilan kendaraan dan modal kerja UMKM kian mencekik. Kelompok yang tadinya mapan kini perlahan turun kasta menjadi kelompok rentan miskin.
Fenomena "Banting Setir": Sinyal Bahaya Sosial
Ketika seorang karyawan pabrik mendadak beralih menjadi pedagang kaki lima bukan karena aspirasi, melainkan karena keterpaksaan pasca-PHK, itulah yang disebut sebagai economic scarring (luka ekonomi). Masyarakat dipaksa melakukan manuver ekstrem—banting setir—untuk menutupi jurang antara pendapatan yang stagnan dan harga pokok yang melambung.
Ini bukan resiliensi yang patut dibanggakan, melainkan resiliensi yang menyakitkan. Pertumbuhan ekonomi kita saat ini faktanya lebih banyak didorong oleh sektor komoditas yang padat modal, bukan padat karya. Kekayaan terkonsentrasi di puncak piramida, sementara di akar rumput, rakyat dibiarkan berjibaku sendiri.
Langkah Strategis: Kembali ke "Wajah Manusia"
Pemerintah tidak boleh lagi hanya memuja angka pertumbuhan sebagai berhala. Perlu intervensi konkret dan segera:
. Proteksi Sektor Padat Karya: Berikan insentif pajak dan subsidi energi bagi industri manufaktur untuk mencegah PHK massal akibat tekanan kurs.
. Stabilitas Harga Pangan: Bagi rakyat kecil, inflasi yang nyata ada di harga beras dan minyak goreng, bukan di rilis berita BPS. Stabilisasi harga pangan adalah kunci mutlak menjaga daya beli.
. Relaksasi Kredit Rakyat: Di tengah tren suku bunga tinggi, perbankan wajib didorong untuk melakukan restrukturisasi kredit bagi UMKM yang sedang berada di masa transisi kritis.
Kesimpulan
Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas adalah pertumbuhan yang memiliki "wajah manusia". Jika angka 5% tidak mampu mencegah rakyat dari banting setir demi sesuap nasi, maka kita perlu bertanya: Untuk siapa sebenarnya ekonomi ini tumbuh?
Kebijakan harus segera bergeser dari sekadar mengejar angka investasi besar menuju perlindungan riil ekonomi rumah tangga. Jangan sampai fenomena "banting setir" ini berubah menjadi keputusasaan massal yang merusak tatanan sosial kita.