Bansos Salah Sasaran: Ironi Keadilan Sosial yang Mengakar di Tingkat Desa
Oleh: Endang Rante /Redaksi Sidak Informasi.
Ketidaktepatan sasaran penyaluran bantuan sosial (bansos) di tingkat desa telah menjadi ironi kronis yang mencerminkan keresahan mendalam masyarakat. Fenomena ini, seperti disorot oleh Ketua Pokja Sabaraya Endang (Rante), bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan kegagalan sistemik dalam mewujudkan keadilan sosial.
Realitas di lapangan sangat kontras: bantuan beras dan minyak goreng seringkali mendarat di rumah warga yang secara kasat mata mampu—pemilik sepeda motor NMAX atau rumah besar—sementara keluarga prasejahtera justru hanya bisa "nonton" dan terpinggirkan oleh sistem.
Permasalahan ini meruncing pada beberapa poin fundamental:
Validasi Data yang Buruk: Data penerima bantuan seringkali basi dan tidak diverifikasi ulang secara teliti di lapangan. Akibatnya, data yang digunakan tidak relevan dengan kondisi ekonomi terkini warga.
Subjektivitas di Tingkat Lokal: Potensi konflik kepentingan dan intervensi dalam penentuan penerima di tingkat desa menggerus objektivitas. Ironisnya, tak jarang petugas sosial lokal juga ikut menjadi bagian dari penerima bantuan, mempertanyakan netralitas mereka.
Minimnya Kesadaran Warga Mampu: Kurangnya empati dan kesadaran sosial dari warga mampu yang tetap merasa berhak menerima bantuan memperparah ketimpangan distribusi.
Fenomena ini membuktikan bahwa masalahnya bukan semata-mata di pemerintah pusat, tetapi mengakar kuat di tingkat pelaksana.
Opini ini menyerukan agar pemerintah dan semua pihak terkait melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme penyaluran bantuan.
Transparansi mutlak diperlukan di setiap tahapan. Perbaikan fundamental dalam proses verifikasi data adalah kunci agar bantuan sosial benar-benar sampai kepada tangan mereka yang berhak. Keadilan sosial harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar narasi hampa di atas kertas.