Opini.
Jejak Tugu Batu Alun-Alun Jonggol: Merawat Jiwa di Tanah Bogor
Opini
Oleh: Endang Kosasih (Rante)
Redaksi Sidak Informasi
Sejarah sejatinya bukanlah sekadar deretan angka tahun yang kaku atau barisan nama tokoh yang memenuhi lembar demi lembar buku teks. Lebih dari itu, sejarah adalah "jiwa" yang bersemayam di setiap jengkal tanah yang kita pijak. Di Bogor, tepatnya di Alun-Alun Jonggol, jejak itu termanifestasi dalam wujud Tugu Batu—sebuah penanda bisu yang menyimpan narasi panjang tentang identitas dan peradaban lokal.
Merujuk pada berbagai catatan masa lalu, keberadaan tugu ini bukan sekadar penghias ruang publik atau elemen estetika perkotaan. Ia adalah titik koordinat memori kolektif masyarakat. Sering kali, kita melewati monumen ini tanpa menyadari bahwa di sanalah denyut nadi perjuangan dan dinamika sosial para leluhur kita terekam secara abadi.
Bagi masyarakat Jonggol, Tugu Batu adalah simbol keteguhan. Jika kita jeli "membaca" maknanya, setiap guratan pada batu tersebut mencerminkan semangat zaman yang tak lekang oleh waktu. Menghargai keberadaannya berarti merawat jembatan yang menghubungkan generasi masa lalu dengan kita yang hidup di masa kini.
Namun, realitas hari ini menyuguhkan pemandangan yang berbeda. Secara fisik, Tugu Batu Alun-Alun Jonggol telah mengalami pergeseran, baik dari segi posisi maupun fungsinya dalam tata ruang. Perubahan ini seakan menjadi potret nyata bagaimana modernitas terkadang sedikit mendesak eksistensi nilai-nilai lama.
Meski wujudnya telah berpindah dan fungsinya tak lagi sama seperti semula, satu hal yang harus dipastikan tidak hilang: jiwa Jonggol.
Kita harus berhenti memandang situs sejarah hanya sebagai benda mati atau sekadar pajangan di tengah keramaian. Mari melihat Tugu Batu Jonggol sebagai pintu masuk untuk memahami jati diri kita sebenarnya. Bangsa yang besar tidak hanya membangun masa depan dengan kecanggihan teknologi, tetapi juga dengan menjaga agar api sejarahnya tetap menyala di tanah leluhur.
Tugu mungkin bisa bergeser, fungsi mungkin bisa berganti, namun semangat dan nilai-nilai yang dikandungnya harus tetap merengkuh erat hati masyarakat Jonggol. Sebab, di sanalah letak harga diri sebuah peradaban.