Dermaga Sementara di Cibarusah
(Kisah nyata)
Penulis,Endang kosasih
Maret 2024 seharusnya menjadi hari biasa di kantor kecamatan Cibarusah. Namun bagi RN, hari itu adalah awal dari sebuah kehancuran yang tak pernah ia bayangkan. Di sana, ia bertemu IC, seorang janda tiga anak yang tampak rapuh saat mengurus administrasi mendiang suaminya. RN, pria asal Jakarta itu, jatuh hati. Ia jatuh terlalu dalam, hingga menutup mata bahwa ada hati lain di rumahnya yang sedang ia khianati.
Demi IC, RN menjanjikan dunia. Sebagai bentuk kesungguhan, ia bahkan mendatangi ibunda IC, menyerahkan sejumlah uang untuk biaya pernikahan yang mereka rencanakan. Baginya, IC adalah masa depan.
Dua bulan berlalu, badai pertama menerjang. Istri sah RN mencium aroma pengkhianatan dan mendatangi rumah IC. Namun, alih-alih mundur karena rasa bersalah, RN justru memilih untuk semakin tenggelam. Meski tak lagi berani bertamu ke rumah, ia terus memupuk hubungan terlarang itu di luar sepengetahuan keluarganya, namun tetap terpantau oleh ibu IC.
Satu setengah tahun lamanya, RN menjalani peran sebagai "penyokong utama". Ia bukan sekadar kekasih; ia adalah tulang punggung. Dari memberikan sepeda motor agar sekolah anak-anak IC tak terhambat, hingga mencukupi uang jajan harian dan biaya hidup mereka. RN adalah pengantar jemput setia saat IC pulang seminggu sekali dari tempat kerjanya di Cikarang. Ia bertahan meski pernikahan terus tertunda dengan alasan "mencari hari baik".
Puncaknya, pada 26 Desember 2025, di sebuah malam hangat bersama rekan-rekan mereka, IC menatap mata RN dan berucap lirih: "Januari 2026, kita menikah ya, Pih. Sepulang aku dari Bali nemenin Bos."
Kalimat itu adalah oase bagi RN. Garis finis dari segala lelah dan pengorbanan hartanya. Namun, Januari yang dinanti ternyata tidak membawa pelaminan, melainkan musim dingin yang mematikan.
Setelah izin tidak pulang di malam pergantian tahun dengan alasan pekerjaan, IC tiba-tiba lenyap. Pada 5 Januari 2026, sebuah pesan singkat masuk bak belati yang menghujam jantung RN: "Jangan hubungi saya lagi, saya sudah nyaman dengan anak." Detik itu juga, semua akses komunikasi diblokir. Dunia RN runtuh seketika.
Dengan kepanikan luar biasa, RN mencari IC ke tempat kerjanya di Cikarang, hanya untuk mendapati kenyataan bahwa IC sudah tiga hari menghilang. Ia lalu menemui ibunda IC, berharap ada sedikit simpati atau pembelaan atas keringat yang telah ia kucurkan selama ini. Namun, yang ia dapati justru kedinginan yang lebih perih dari angin malam.
Dengan nada datar, sang ibu bercerita bahwa IC datang bersama pria lain—rekan kerjanya asal Probolinggo—untuk meminta izin menikah. Saat RN menagih janji dan komitmen yang telah berjalan hampir dua tahun, sang ibu hanya menjawab dingin: "Itu urusanmu dengan IC."
Seolah belum cukup hancur, keesokan harinya blokir telepon dibuka. Dengan suara tanpa dosa, IC mengonfirmasi bahwa ia telah resmi menikah dengan pria Probolinggo tersebut. Hanya butuh waktu dua minggu perkenalan bagi IC untuk menghapus dua tahun pengorbanan RN.
Kini, RN berdiri di atas puing-puing hidupnya yang hancur total. Ia kehilangan IC yang ia perjuangkan dengan cara yang salah, dan di saat yang sama, ia kehilangan keluarga sahnya yang kini berantakan setelah rahasia ini terbongkar.
Surat keberatan yang ia tulis kini bukan sekadar protes, melainkan sebuah nisan bagi komitmen yang mati sebelum sempat dirayakan. RN menyadari pahit, bahwa selama ini ia hanyalah dermaga sementara, tempat seseorang bersandar saat badai, sebelum akhirnya berlayar pergi dengan kapal yang baru.