Menelusuri Jejak Spiritual Makam Keramat Gunung Payung: Warisan Mbah Jago di Jonggol
JONGGOL, BOGOR – Sidak Informasi.Di balik rimbunnya lereng Gunung Payung, Kampung Kujang, Desa Jonggol, Kabupaten Bogor, terdapat sebuah situs yang menjadi episentrum spiritualitas dan sejarah lokal. Makam Keramat Gunung Payung bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir, melainkan simbol perjuangan Islam di Jawa Barat yang berkaitan erat dengan sosok legendaris, Mbah Raden Demang Djaya Laksana atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Mbah Jago.
Sosok Pendekar dan Penyebar Syiar Islam
Lahir di era kolonial abad ke-19, Mbah Jago dikenal sebagai sosok "pilih tanding". Gelar "Jago" yang melekat padanya bukan tanpa alasan; ia merupakan pendekar sakti sekaligus kesatria yang memimpin perlawanan terhadap penjajah Belanda. Senjata tradisional seperti keris dan tombak sakti menjadi saksi bisu keberaniannya dalam melindungi wilayah Jonggol
Selain ketangkasan fisik, Mbah Jago adalah tokoh kunci penyebaran agama Islam di wilayah pegunungan Bogor. Ia mendirikan masjid serta pondok pesantren guna mengajarkan ajaran tasawuf yang harmonis dengan budaya Jawa. Silsilah lisan menempatkan Mbah Jago sebagai keturunan agung. Ia diyakini sebagai putra dari Mbah Raden Demang Sota Widjaya bin Mbah Raden Demang Cakra, yang bermuara pada Eyang Mangkubumi Gunung hingga mencapai garis keturunan Sunan Kalijaga (Raden Said).
Kompleks Makam dan Penjaga Gaib
Situs keramat ini mencakup makam Mbah Jago dan ayahnya, Mbah Akim. Keberadaan makam ini diselimuti narasi mistis yang kuat; masyarakat setempat percaya bahwa area sakral ini dijaga oleh dua sosok khodam harimau. Konon, harimau-harimau tersebut adalah perwujudan ilmu gaib Mbah Jago yang bertugas melindungi kesucian makam dari gangguan luar.
Hingga kini, kompleks makam tetap menjadi destinasi ziarah utama. Pada hari-hari tertentu, seperti Jumat Kliwon atau hari besar Islam, peziarah datang untuk memanjatkan doa, bersedekah, dan mencari berkah spiritual melalui wasilah sang wali.
Upaya Pelestarian dan Restorasi
Kesadaran akan pentingnya nilai historis situs ini memicu langkah konservasi besar pada 25 Desember 1992. Proyek pemugaran tersebut difokuskan pada perbaikan struktur fisik makam guna melindunginya dari erosi alam, tanpa menghilangkan nilai kesakralannya. Pemugaran ini merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah (merujuk pada semangat UU No. 5 Tahun 1992 tentang Cagar Budaya) dengan dukungan penuh dari komunitas lokal.
Salah satu pilar utama pelestarian makam ini adalah Keluarga Besar Mbah Jago yang berasal dari Cipinang Prumpung, Jakarta Timur. Meskipun terpisah jarak geografis, keturunan Mbah Jago yang tersebar di Jakarta hingga Bogor tetap berkomitmen menjaga silsilah dan tradisi leluhur agar tidak tergerus oleh arus urbanisasi.
Makna Strategis dalam Konteks Sejarah
Relevansi Makam Gunung Payung semakin menguat mengingat posisi Jonggol yang sempat diproyeksikan sebagai pusat pemerintahan nasional pada era Orde Baru. Keberadaan situs ini menjadi jangkar identitas bagi masyarakat Jonggol, membuktikan bahwa wilayah ini memiliki akar sejarah dan religiusitas yang mendalam jauh sebelum rencana modernisasi kota muncul.
Meski tantangan zaman terus membayangi, Makam Keramat Gunung Payung tetap berdiri kokoh sebagai saksi sejarah perjuangan Islam dan simbol keteguhan budaya masyarakat Jawa Barat.(Rnt)